SEJARAH

Mengemban misi khidmah mendidik dan mengayomi masyarakat bukan hal mudah. Butuh kesabaran dan pengalaman panjang untuk mencapai tujuan dan target yang diidamkan.

Pondok Pesantren Ibadurrahman merupakan perpanjangan tangan dari lembaga Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darussalam Jakarta, yang menjadi embrio lahirnya banyak tokoh dan pengabdi masyarakat di lingkungan sekitar.

Berbakal usaha pribadi dan beberapa sokongan kaum muhsinin, KH. Abdurrahman Muhammad membuka lahan perjuangan dakwah di lingkungan –yang kala itu- masih sangat sunyi, bahkan sepi dari ”peradaban. Lokasi terletak di Desa Gandoang, Cileungsi, Bogor.

Visi jauh ke depan Allah yarhamhu KH. Abdurrahman Muhammad meniscayakan terbukanya wawasan para kader akan masa depan tantangan dan prospek cikal bakal lembaga khidmah Pondok Pesantren Ibadurrahman.

Tahun 1994 menjadi momentum awal dicanangkannya pendirian Lembaga Pondok Pesantren Ibadurrahman. Ide dan gerakan dimotor pendiri KH. Abdurrahman Muhammad, dengan membangun tiga lokal kelas dan satu lokal kantor administrasi sekolah dari kocek pribadi dan hasil swadaya masyarakat.

Pembangunan berjalan penuh cobaan karena minimnya kader dan pengurus yang rela mengabdikan dirinya di wilayah yang dianggap masih “terisolasi” tersebut.

Aral pun tak lagi terhindarkan. Apalagi sekitar tahun 1996, kader yang diharap melanjutkan perjuangan harus ”disekolahkan” ke Al-Azhar Mesir, dan hampir pada periode bersamaan sang pendiri (KH. Abdurrahman Muhammad) tertimpa musibah penyakit stroke yang mengakibatkan terhentinya proses pembangunan fisik lembaga. Dan hingga ajal beliau meregang pada tahun 2005, geliat keberlanjutan pengembangan lembaga ini masih belum terlihat.

Tahun terus berlanjut, atau nyaris lebih dari 7 (tujuh) tahun, cikal lahan perjuangan umat ini masih terbengkalai tiada terurus. Hingga pada medio 2011, setelah para kader kembali ke Tanah Air dan mendapati prototipe lembaga yang cocok diteladani, hidayah dan ma’unah Allah SWT datang menghampiri. Tekad melanjutkan amanah perjuangan KH. Abdurrahman Muhammad terus menggelora, dan dimulailah aktivitas pembangunan sarana fisik, administrasi, dan kelembagaan pondok pesantren yang dicita-citakan secara massif. Dukungan masyarakat dan kaum muhsinin sangat mendorong motivasi mereka.